Community Development Penerapan Pendidikan Konservasi melalui Anak Usia Dini Selasa, 09 Maret 2010 - Eka Sahputra
Rangkaian Kegiatan secara kontinue dalam rangka mengubah perilaku (pengetahuan, sikap, kesadaran dan keterampilan yang ada kaitannya dengan upaya konservasi sumber daya yang dimiliki) masyarakat secara langsung atau tidak langsung agar optimalnya peran mahasiswa mendayagunakan dan mengamalkan ilmu serta wawasannya untuk menuju masyarakat yang sejahtera
Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya (Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 1 Ayat 2). Pendidikan Konservasi dimulai dari hati sang fasilitator dan diberikan ke hati anak. Situasi belajar harus menyentuh perasaan anak. Perasaan atau emosi pada anak sering berbeda dengan orang dewasa. Jika anak-anak diajak bicara, maka akan tumbuh motivasinya. Perasaan yang tersentuh akan menggerakan organ-organ lain pada tubuh untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi kata hatinya (Wibowo. 2007).
Pendidikan konservasi haruslah dimulai sejak dini dan dapat dilaksanakan di lingkungan rumah secara non formal. Sejak kecil anak dididik untuk menanam, menyirami dan memeliharanya. Secara formal, pendidikan konservasi harus dimulai pada jenjang pendidikan yang sangat mendasar dan sangat menentukan bagi perkembangan anak di kemudian hari yaitu pendidikan anak usia dini (PAUD). Dalam menerapkan pendidikan konservasi pada anak usia dini sebaiknya menggunakan bahasa anak itu sendiri atau yang mudah dipahami oleh anak-anak, sehingga informasi yang kita berikan akan tersampaikan dan dimengerti dengan baik oleh anak tersebut. |